Literasi Al-Qur’an di Bandung Tak Cukup Bisa Membaca, Pemkot Bidik Pembentukan Karakter Anak
BANDUNG –SRIKANDIPOST- Kemampuan membaca Al-Qur’an perlu dibangun lebih dari sekadar mengenal huruf dan melafalkan ayat. Kebiasaan membaca, pemahaman terhadap isi bacaan, hingga penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting yang ingin diperkuat Pemerintah Kota Bandung melalui program literasi Al-Qur’an.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dan pelatihan guru mengaji menggunakan metode literasi membaca Al-Qur’an. Program ini dibuka Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Hotel Oakwood Merdeka Bandung, Jalan Jawa, Senin (5/10/2026).
Bagi Pemkot Bandung, literasi Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
Farhan menilai, kemampuan membaca merupakan fondasi penting dalam membangun wawasan dan kecakapan berpikir. Karena itu, pembiasaan membaca Al-Qur’an diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan memahami informasi secara lebih baik.
“Bagaimanapun juga ini bagian dari pendidikan literasi. Tujuannya agar tingkat melek huruf Al-Qur’an ini bisa meningkat,” ujar Farhan.
Membaca dengan Baik, Memahami Makna
Menurut Farhan, tantangan literasi Al-Qur’an bukan semata-mata persoalan masyarakat yang belum mengenal huruf hijaiyah. Perhatian juga perlu diarahkan pada kebiasaan membaca Al-Qur’an secara langsung, bukan hanya mengandalkan tulisan latin untuk membantu pelafalan.
Ia memandang kemampuan linguistik sebagai bekal penting bagi anak-anak dalam menghadapi tantangan pendidikan dan perkembangan informasi yang semakin cepat.
Melalui kebiasaan membaca, anak diharapkan tidak hanya terampil melafalkan tulisan, tetapi juga mampu memahami apa yang dibaca. Kebiasaan tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun kemampuan menyerap informasi, memperluas wawasan, dan mengembangkan pola pikir.
“Ketika mereka mengerti apa itu iqra, kita harapkan anak-anak kita nanti akan bisa mengerti bahwa ketika mereka mendapatkan informasi pun harus membaca dengan baik,” tuturnya.
Pesan tersebut menempatkan literasi sebagai proses yang lebih luas daripada kemampuan teknis membaca. Anak-anak perlu dibiasakan untuk mengenali bacaan, memahami isinya, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an, kemampuan membaca dengan benar menjadi tahap awal yang kemudian perlu diikuti dengan pemahaman kandungan ayat serta pengamalan nilai-nilainya.
Guru Mengaji Jadi Ujung Tombak
Keberhasilan program literasi tidak hanya ditentukan oleh metode pembelajaran, tetapi juga oleh orang-orang yang mendampingi proses belajar. Dalam hal ini, guru mengaji memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan anak-anak dan keluarga di lingkungan masyarakat.
Pemkot Bandung mendorong peningkatan kapasitas guru mengaji melalui pelatihan agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca.
Farhan berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kemampuan peserta secara individual. Program itu juga diharapkan berkembang menjadi Training of Trainers (TOT), sehingga guru yang telah mengikuti pelatihan dapat membagikan pengetahuan dan metode pembelajaran kepada pengajar lain.
“Keberadaan para guru mengaji menjadi sangat strategis,” katanya.
Jika pola pelatihan berjenjang ini berjalan dengan baik, jangkauan program berpeluang meluas tanpa hanya bergantung pada kegiatan yang diselenggarakan pemerintah. Guru mengaji dapat menjadi penggerak literasi di lingkungannya masing-masing, sekaligus membantu menjaga kesinambungan pembelajaran.
Dari Kemampuan Membaca Menuju Pembentukan Karakter
Penguatan literasi Al-Qur’an juga membawa harapan agar pendidikan anak tidak berhenti pada pencapaian kemampuan membaca. Pemahaman terhadap nilai-nilai Al-Qur’an perlu menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Kebiasaan membaca yang dibangun sejak dini dapat menjadi modal bagi anak untuk lebih terbuka terhadap pengetahuan. Sementara pemahaman terhadap isi Al-Qur’an diharapkan membantu mereka mengenali nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, perluasan gerakan literasi membutuhkan kesinambungan. Pelatihan guru, pendampingan pembelajaran, keterlibatan keluarga, dan pembiasaan membaca di lingkungan masyarakat perlu saling mendukung agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an yang digagas Pemkot Bandung menjadi salah satu langkah untuk memperkuat fondasi tersebut. Keberhasilannya nantinya tidak hanya terlihat dari bertambahnya warga yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan membaca dan meningkatnya pemahaman terhadap apa yang dibaca.
Dengan menempatkan guru mengaji sebagai penggerak dan literasi sebagai proses berkelanjutan, Bandung diharapkan mampu membangun generasi yang tidak hanya cakap membaca, tetapi juga memiliki wawasan, kemampuan memahami informasi, dan karakter yang kuat.
(Sumber bahan: Siaran Pers Diskominfo Kota Bandung, 5 Oktober 2026)








Posting Komentar